Khamis, 29 Januari 2009

Mengambil Pengajaran Daripada Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009

Tanggal 26 Januari 2009, ada peristiwa langka yang dapat disaksikan di wilayah Indonesia, iaitu gerhana matahari cincin. Tidak seperti gerhana matahari penuh, di mana matahari benar-benar terhalang oleh bulan secara keseluruhan, gerhana matahari cincin menyisakan sebagian sisi luar lingkar matahari tetap terlihat.Salah satu komunitas astronomi di indonesia, berdiskusi tentang kemungkinan menjadikan peristiwa gerhana ini sebagai salah satu cara menera atau menguji keakuratan metode penghitungan awal bulan hijriah. Sebagaimana kita ketahui, di indonesia sering terjadi perbezaan dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan serta Idul Fitri. Salah satu penyebabnya adalah ada banyaknya jenis metode penentuan awal bulan hijriah. Ada yang memakai rukyat (melihat bulan sabit) ada yang hisab (perhitungan). Yang memakai hisab, ternyata juga berbagai macam acuan perhitungannya.Kerana itulah, ada yang mengusulkan bagaimana jika peristiwa gerhana ini dijadikan sebagai salah satu referensi untuk menguji keakuratan hasil perhitungan berbagai metode yang ada. Hal ini didasari dengan kenyataan bahawa pada saat gerhana matahari cincin ini, posisi bulan dan matahari bisa dilihat dengan jelas dan dapat diukur serta diamati. Dengan alat pengukuran baku, orang dapat mencocokkan hasil perhitungan dengan kenyataan posisi sebenarnya dua benda langit: matahari dan bulan.Dari hasil pencocokan ini, diusulkan agar metode penghitungan yang kurang akurat tidak dipakai lagi sebagai acuan dalam menentukan awal bulan qomariyah.Sebuah langkah yang ilmiah dan mendasar, menurut saya, untuk menyatukan kaum muslimin di indonesia dalam menjalankan ibadah-ibadahnya. Dan kerana Allah telah memberikan petunjuknya, bahawa sebenarnya matahari dan bulan diciptakan agar manusia dapat menghitung waktu dan penanggalan:

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
[Al Qur'an, Yunus(10): 5]

Kami Tak Akan Menyerah - Lagu untuk Gaza

Beberapa hari yang lalu, pasukan Israel menarik diri dari Jalur Gaza setelah 23 hari menghujaninya dengan bom dan peluru. Aksi serangan Israel yang merenggut lebih dari 1200 nyawa orang Palestin tersebut menuai kecaman dan kutukan dari berbagai belahan dunia. Tak hanya dari pihak kaum muslimin yang merasa saudaranya dizalimi, orang-orang barat pun menyatakan simpatinya.Salah satu non-muslim yang menyatakan simpatinya kepada perjuangan bangsa Palestin untuk memperoleh hak hidup dan tanahnya kembali adalah seorang pemuzik bernama Michael Heart. Melalui situsnya, ia menerbitkan sebuah lagu dan klip video tentang Gaza yang diambil secara gratis. Judul lagunya: We Will Not Go Down (A Song for Gaza). Selengkapnya mengenai sang penulis, lagu dan videonya, bagaimana diambil, serta teks liriknya mengunjungi situs rasmi Michael Heart.Berikut ini adalah terjemahan bebas lagu tersebut. Semoga bermanfaat bagi yang baru menikmati alunan lagunya tanpa mengerti apa isinya…

Kami tak akan menyerah (Lagu untuk Gaza)
Dikarang oleh Michael Heart
Kilatan cahaya putih yang menyilaukan
Menerangi langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian mencari perlindungan
Tanpa menyedari mereka hidup atau mati
Bersama tank dan pesawat mereka datang
Dengan jilatan api yang membinasakan
Dan tak ada yang tersisa
Dari debu dan asap hanya ada satu suara:
Kami tak akan menyerah
Dalam kelam, tanpa perlawanan
Engkau membakar masjid, rumah dan sekolah
Tetapi semangat kami tak akan mati
Kami tak akan menyerahDi Gaza malam ini
Tak peduli wanita ataupun anak-anak
Dibunuh dan dibantai malam demi malam
Sementara mereka yang disebut pemuka negara
Berdebat atas siapa yang benar siapa salah
Ucapan mereka sekedar pemanis belaka
Sementara bagai hujan asam, bom berhamburan
Namun di tengah tangis, darah serta kesakitan
Dari balik debu berasap engkau mendengar suara:
Kami tak akan menyerah
Dalam kelam, tanpa perlawanan
Engkau membakar masjid, rumah dan sekolah
Tetapi semangat kami tak akan mati
Kami tak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Selasa, 20 Januari 2009

Islamic Hijri Calendar

Kemanapun Kamu Menghadap

Malam itu, cuaca di Jazirah Arab tidaklah begitu baik. Suhu dingin dan kabut tebal menyelimuti hamparan padang pasir. Di suatu tempat, pasukan Jabir, salah seorang sahabat Rasulullah SAW., sedang bermalam. Pandangan mereka hanyalah sejauh jangkauan sinar-sinar obor dan perapian yang mereka nyalakan. Cahaya bulan pun tak kuasa menembus tebalnya kabut malam itu. Apatah juga kerlap-kerlip gemintang. Tak ada satupun yang tampak.
Ketika waktu solat tiba dan azan telah selesai dikumandangkan, terjadilah sedikit keributan di antara pasukan Jabir tersebut. ”Kemanakah arah kiblat yang benar?” Di jaman ketika orang bertumpu kepada benda-benda langit untuk menentukan arah mata angin, tentulah pertanyaan semacam itu adalah hal yang wajar. Mengapa tidak? Rasi bintang Biduk Besar yang biasa dipakai sebagai penunjuk arah utara, malam itu tak disaksikan sama sekali. Sementara, mereka pun tidak mengingat dengan pasti ke arah mana siang sebelumnya mereka menghadap. Maka sekelompok dari mereka membuat garis ke satu arah dan solat mengikuti garis tersebut sementara satu kelompok yang lain membuat garis ke arah lain dan solat mengikuti arah yang mereka yakini sebagai arah kiblat yang benar.
Keesokan harinya, ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, ternyata garis-garis patokan solat mereka ternyata tidak ada yang menunjuk ke arah kiblat. Maka dilaporkanlah kejadian tersebut kepada Rasulullah kerana para sahabat merasa ada yang janggal di hati ketika mereka tidak menepati perintah Allah untuk bersolat menghadap Baitullah.
Dan sebagai jawapan atas kegundah hati para sahabat tersebut turunlah satu ayat dari surat Al Baqarah, ayat yang ke-115, yang artinya:

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Itulah sebuah kisah yang diriwayatkan sebagai salah satu penyebab atau latar belakang diturunkannya ayat tersebut di atas. Ada beberapa kisah lain yang pada intinya berkisar kepada permasalahan kemana kita menghadap ketika solat. Ketika kita tidak bisa menentukan dengan pasti mana arah kiblat, maka kita tidak perlu khawatir sholat kita tidak akan diterima oleh Allah SWT. Kerana, kemanapun kita menghadap, di situlah kita temukan wajah Allah.
Di luar konteks tersebut di atas, tentunya ada nuansa lain yang bisa kita tangkap dari ayat tersebut. Dengan ayat tersebut seolah-olah Allah inign menegaskan bahwa sebenarnya tanda-tanda kekuasaan-Nya dapat kita temui di segala penjuru mata angin. Kemanapun kita arahkan pandangan, mata kita akan tertuju kepada hal-hal yang sebenarnya mengingatkan kita kepada Allah. Kepada apapun kita tujukan konsentrasi fikiran kita, maka sebenarnya kita akan menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Insyaallah, blog ini akan mencuba menghadirkan, mengulas dan menyajikan berbagai hal yang menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah, subhanahu wata’ala.

Bukit 'Budha'



Gambar semacam ini (kolom sebelah kiri, di bawah) sudah sejak lama beredar di internet melalui berbagai mailing list tempat berdiskusi kaum muslimin. Dan gambar ini (beserta beberapa yang lain) dijadikan sebagai 'bukti' kebesaran Allah.Mm... lagian apa hubungannya 'Sang Budha' dengan kebesaran Allah atau kebenaran Islam???

Aurora melafalkan kata Allah



Gambar semacam ini (kolom sebelah kiri, di bawah), tentang ditemukannya lafal 'Allah' atau 'Muhammad' pada berbagai benda, binatang, atau kejadian adalah sebuah contoh dari fenomena psikologis yang disebut: PAREIDOLIA. Ia adalah: "Obsesi benak kita untuk menemukan pola (gambar bermakna tertentu) dalam sesuatu yang sebenarnya samar, acak atau bisa memiliki aneka makna (ambiguous), dari bentukan awan hingga guratan kayu".
Jadi, bolehkan jika saya melihat 'gambar' lain pada foto aurora (cahaya kutub) di bawah ini???
Gambar dan keterangan gambar yang beredar
Gambar dan keterangan gambar dari saya
Banyak kejadian alamiah seperti ini, yang kemudian 'dipaksakan' untuk dilihat sebagai lafal allah, muhammad, dan semacamnya. Lebih jauh lagi, gambar semacam itu kemudian diberi embel-embel 'mukjizat allah'. Banyak yang kemudian percaya bahwa allah sengaja menuliskan lafal-lafal tersebut kepada kita untuk menunjukkan keberadaan-Nya atau kekuasaan-Nya.
Hal serupa juga dilakukan oleh sebagian pemeluk agama lain ketika, misalnya, ada sesuatu yang dilihat sebagai gambar yesus atau bunda maria. Lihat

Ketika Bulan Terbelah - Tafsir Surat Al Qomar (54) ayat 1


Ada sebuah ayat di dalam al Qur'an yang menyatakan bahwa bulan [pernah/akan] terbelah ketika jaman telah mendekati kiamat. Sengaja kata pernah dan akan saya beri kurung kerana ada beberapa penafsiran tentang ayat ini. Selengkapnya erti ayat tersebut adalah sebagai berikut:
Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.
Dalam catatan kaki dari terjemahan al Qur'an Departmen Agama RI, ditulis:
Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan "terbelahnya bulan" ialah suatu mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Memang ada hadith yang meriwayatkan peristiwa terbelahnya bulan di masa Nabi ini. Hal ini terjadi ketika kaum musyrikin 'menentang' Nabi untuk menunjukkan bukti kenabiannya dengan meminta membelah bulan. Kesahihan riwayat hadits ini saya tidak terlalu ketahui.
Sejak cukup lama, telah beredar melalui internet sebuah gambar permukaan bulan yang diklaim sebagai bukti pernah terbelahnya bulan sekaligus bukti 'kebenaran' ayat di atas. Gambar aslinya dapat dilihat pada situs Badan Antariksa Amerika (NASA). Di sana terlihat sebuah ngarai (semacam kanal kering) besar yang lurus membentang, dan mengesankan sebuah bekas patahan atau belahan yang tersambung kembali. Tetapi, jika kita bersedia membaca lebih jauh keterangan dari NASA mengenai gambar tersebut, orang akan berpikir ulang untuk menyatakan bahwa ngarai tersebut merupakan bekas terbelahnya bulan.
Beberapa fakta tentang bentukan alam di bulan tersebut:

1. Ilmuwan menyebutnya sebagai RILLE. Meskipun ada banyak spekulasi tentang asal muasal kejadiannya, tetapi pendapat terkuat menyatakan bahwa ia merupakan bekas kanal atau saluran lava yang keluar dari perut bulan di masa lampau. Khusus yang berbentuk lurus, diduga merupakan patahan tanah yang turun di antara 2 sesar kerak bulan yang sejajar.

2. RILLE mempunyai berbagai macam bentuk. Lurus dan panjang seperti gambar di atas adalah salah satunya. Sisanya ada yang seperti aliran sungai sebagaimana di bumi. Mereka ditemukan di hampir semua titik di permukaan bulan.

3. RILLE tidaklah sepanjang yang diperkirakan. Meskipun ada yang mencapai ratusan kilometer, tetapi tidak ditemukan RILLE yang mengelilingi seluruh permukaan bulan. Kalau bulan pernah terbelah dua dan RILLE tersebut adalah bukti bekas belahannya, tentunya kita harapkan bahwa RILLE tersebut membentuk garis yang mengelilingi bulan.
Jadi, tidak tepat menjadikan gambar di atas sebagai bukti bahwa bulan pernah terbelah.
Bagi kita, yang mengimani Allah, ayat tersebut harus dipercayai. Allah Maha Kuasa untuk membelah bulan. Dan Ia pun kuasa untuk menyatukannya kembali, dengan atau tanpa bekas. Semuanya mudah bagi Allah.